Kalimantan, pulau yang kaya akan sumber daya alam dan keindahan hutan tropis, belakangan ini digegerkan dengan penemuan sejumlah bahan peledak berbahaya. Mortir dan granat, yang diduga peninggalan masa perang atau konflik lama, ditemukan di beberapa lokasi, memicu kekhawatiran sekaligus keingintahuan publik. Berikut adalah 7 fakta temuan mortir dan granat di Kalimantan yang bikin geger dan mengungkapkan sisi lain sejarah serta bahaya yang mengintai.
- Ditemukan di Area Berbeda: Penemuan tidak hanya terjadi di satu titik. Mortir dan granat ditemukan di lokasi yang berbeda-beda, menunjukkan kemungkinan penyebaran yang luas atau aktivitas militer di masa lalu yang mencakup area yang beragam. Ini menandakan bahwa potensi temuan serupa masih ada di wilayah lain.
- Mortir dan Granat Aktif: Yang paling mengkhawatirkan adalah banyak dari bahan peledak yang ditemukan masih dalam kondisi aktif atau berpotensi meledak. Ini sangat berbahaya jika tidak ditangani oleh pihak berwenang yang terlatih.
- Ditemukan oleh Warga Sipil: Sebagian besar temuan ini bermula dari laporan warga sipil, baik saat berkebun, menggali tanah untuk pembangunan, atau bahkan saat beraktivitas di sekitar sungai. Ini menunjukkan perlunya edukasi masyarakat tentang benda-benda berbahaya semacam ini.
- Diduga Peninggalan Perang Dunia II atau Konflik Lama: Analisis awal menunjukkan bahwa bahan peledak ini kemungkinan besar merupakan sisa-sisa Perang Dunia II, terutama mengingat jejak pertempuran antara pasukan Sekutu dan Jepang di beberapa wilayah Kalimantan. Namun, ada pula dugaan bahwa sebagian berasal dari konflik lokal atau operasi militer di era setelah kemerdekaan.
- Peran Aktif TNI/Polri dalam Evakuasi: Begitu laporan diterima, tim Gegana dari Polri dan Unit Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) dari TNI langsung dikerahkan. Mereka melakukan evakuasi dengan prosedur standar keamanan yang sangat ketat untuk menghindari ledakan. Ini menunjukkan kesigapan aparat dalam menangani ancaman tersebut.
- Lokasi Penemuan Sering Dekat Pemukiman: Beberapa temuan terjadi di dekat area pemukiman warga atau lahan pertanian yang aktif digunakan, menimbulkan kekhawatiran serius akan keselamatan penduduk. Ini menyoroti urgensi pembersihan area-area yang diidentifikasi sebagai potensi “gudang” amunisi lama.
