Dalam peta jalan kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) membagi inflasi menjadi tiga komponen. Dua yang paling krusial adalah Inflasi Inti (Core Inflation) dan Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Prices). Pertanyaannya, mana yang paling menakutkan bagi otoritas moneter? Jawabannya terletak pada tingkat kendali dan persistensinya dalam perekonomian.
Inflasi Inti merupakan momok yang sesungguhnya bagi BI. Komponen ini mencerminkan tren fundamental dan tekanan permintaan agregat, serta dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi jangka panjang. Kenaikannya menunjukkan bahwa daya beli masyarakat kuat dan gap output ekonomi mulai menyempit. Ini adalah sinyal bahaya yang harus direspons dengan kenaikan suku bunga.
Sebaliknya, inflasi dari Harga Diatur Pemerintah lebih sering disebabkan oleh kebijakan diskresi (seperti kenaikan harga BBM atau tarif listrik) atau gejolak harga komoditas global. Meskipun dampaknya terasa cepat dan signifikan pada masyarakat, sifatnya adalah shock satu kali (first round effect). BI tidak bisa menahan kenaikan harga ini dengan suku bunga.
Mengapa Inflasi Inti lebih menakutkan? Karena ia menunjukkan bahwa kenaikan harga sudah merembes ke seluruh barang dan jasa (efek second round). Jika ekspektasi inflasi terbentuk tinggi di benak masyarakat dan pelaku usaha, mereka akan menuntut upah dan menaikkan harga produk lebih lanjut, memicu spiral inflasi yang sulit dihentikan.
Dalam merespons Harga Diatur Pemerintah, peran BI terbatas. Bank sentral hanya perlu memastikan bahwa kenaikan harga tersebut tidak menular dan memicu lonjakan Inflasi Inti yang persisten. Sementara itu, pengendalian Harga Diatur sepenuhnya ada di tangan Pemerintah melalui kebijakan fiskal dan subsidi.
Kebijakan moneter BI—alat utamanya adalah suku bunga—sangat efektif mengendalikan permintaan domestik, yang merupakan pendorong utama Inflasi Inti. Dengan menaikkan suku bunga, BI dapat mengerem laju kredit dan konsumsi, sehingga tekanan harga yang berasal dari permintaan menjadi melandai dan inflasi terkendali.
Pada akhirnya, bagi BI, ancaman terbesarnya adalah Inflasi Inti yang tinggi dan tidak terkendali, karena ini adalah cerminan kegagalan kebijakan moneter. Meskipun gejolak harga BBM sering memicu kecemasan, BI memiliki peran yang jelas: menjaga jangkar ekspektasi Inflasi Inti tetap rendah dan stabil sesuai target.
