Lombok, pulau yang kaya akan adat dan budaya, memiliki sebuah perayaan tahunan yang bukan hanya unik, tetapi juga diselimuti aura mistis: Tradisi Bau Nyale. Perayaan ini merupakan daya tarik wisata budaya yang luar biasa, menarik ribuan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, untuk menyaksikan sebuah ritual menangkap cacing laut yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. Tradisi Bau Nyale ini diselenggarakan berdasarkan perhitungan kalender Suku Sasak dan selalu menjadi penanda penting dalam kalender pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB).
Secara harfiah, “Bau Nyale” berarti “menangkap cacing laut.” Ritual ini secara turun-temurun dilaksanakan di pesisir selatan Lombok, dengan lokasi utama biasanya dipusatkan di Pantai Seger atau Pantai Tanjung Aan, di kawasan Kuta, Mandalika, Lombok Tengah. Waktu pelaksanaan Tradisi Bau Nyale sangat spesifik, yaitu pada bulan kesepuluh penanggalan Suku Sasak, yang biasanya jatuh sekitar bulan Februari atau Maret Masehi. Penentuan tanggal pasti dilakukan oleh para pemangku adat atau tokoh adat yang disebut Tetua Adat, melalui ritual Sangkap Warige (musyawarah penentuan waktu) yang sakral. Pada tahun 2025, ritual penangkapan Nyale jatuh pada Sabtu dini hari, 22 Februari 2025.
Mitos Putri Mandalika dan Makna Ritual
Inti dari Tradisi Bau Nyale adalah legenda Putri Mandalika, seorang putri Sasak yang sangat cantik dan bijaksana. Karena tidak ingin memecah belah persatuan para pangeran yang memperebutkannya, Sang Putri memutuskan untuk mengorbankan diri dengan menceburkan diri ke laut. Konon, Putri Mandalika berjanji akan kembali setiap tahun dalam wujud cacing laut berwarna-warni yang disebut Nyale.
Masyarakat Sasak percaya bahwa kehadiran cacing Nyale ini membawa keberkahan dan kesuburan, khususnya bagi hasil panen sawah dan melimpahnya ikan di laut. Oleh karena itu, ritual penangkapan Nyale dilakukan dengan penuh suka cita, diiringi oleh tarian tradisional, peresean (pertarungan tongkat), dan lantunan doa. Upaya ini menjadi manifestasi nyata dari Menjaga Tradisi yang menghubungkan masa lalu, spiritualitas, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pengelolaan dan Keamanan Pariwisata
Mengingat tingginya minat wisatawan, Pemerintah Provinsi NTB dan Dinas Pariwisata NTB selalu berupaya memastikan perayaan berjalan tertib dan aman. Selama perayaan, terutama di kawasan Mandalika, pengamanan diperketat oleh aparat gabungan. Kepolisian Resor (Polres) Lombok Tengah mengerahkan lebih dari 300 personel di sepanjang pantai Kuta untuk mengamankan jalannya acara puncak. Selain itu, Badan Pengelola Kawasan Pariwisata Mandalika (ITDC) turut serta menyediakan fasilitas dan area parkir terpusat untuk menampung ribuan pengunjung yang hadir sejak Jumat malam hingga Sabtu subuh.
Tradisi ini bukan hanya ritual; ia adalah aset budaya yang bernilai jual tinggi. Namun, pengelolaan pariwisata harus dilakukan dengan hati-hati agar ritual sakral ini tidak terdegradasi menjadi sekadar tontonan komersial. Upaya Menjaga Tradisi Bau Nyale adalah upaya kolektif yang melibatkan tokoh adat, pemerintah, dan wisatawan itu sendiri, untuk memastikan warisan budaya ini tetap lestari dan otentik.
