Kisah Heroik Pang Suma: Pemimpin Dayak yang Gigih Melawan Penjajah Jepang

Di tengah bara penjajahan Jepang yang melanda Indonesia, muncul sosok-sosok pahlawan dari berbagai penjuru negeri yang dengan gagah berani melawan penindasan. Salah satunya adalah Pang Suma, seorang pemimpin Dayak yang namanya harum di Kalimantan Barat karena kegigihannya dalam melawan penjajah Jepang.

Awal Perlawanan dan Semangat Pembebasan

Menurut berbagai catatan sejarah dan penuturan saksi mata, termasuk dari keturunan pengawalnya, Pang Suma berasal dari daerah Meliau, Kabupaten Sanggau. Nama “Pang Suma” sendiri merupakan panggilan yang berarti “Bapak Suma,” merujuk pada nama anaknya. Perlawanan Pang Suma terhadap Jepang dipicu oleh kesewenang-wenangan penjajah yang memaksa masyarakat, termasuk para pria dewasa, untuk bekerja paksa tanpa upah yang layak dan seringkali disertai dengan kekerasan fisik.

Aksi Heroik dan Kemenangan Awal

Berbekal keberanian dan senjata tradisional Dayak seperti mandau (Sabur), Pang Suma memimpin perlawanan yang cukup signifikan. Tercatat, ia berhasil membunuh pimpinan Jepang di tiga lokasi penting, yaitu Sekucing Balai Bekuak, Kunyil, dan Meliau. Pada Mei 1945, bersama dengan tokoh Dayak lainnya, Pang Linggan, Pang Suma bahkan menantang berkelahi seorang mandor Jepang bernama Osaki di Meliau dan berhasil mengalahkannya.

Kemenangan-kemenangan awal ini semakin membakar semangat rakyat Dayak di Sanggau dan sekitarnya untuk bergabung dalam perjuangan melawan penjajah Jepang di bawah kepemimpinan Pang Suma. Pasukan Dayak yang dipimpinnya kemudian dikenal sebagai Angkatan Perang Majang Desa (APMD) dan melancarkan serangan terhadap perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di wilayah mereka.

Pertempuran Sengit dan Pengorbanan

Berita tentang perlawanan Pang Suma akhirnya sampai ke telinga pimpinan Jepang di Pontianak, yang kemudian mengirimkan ekspedisi militer untuk menumpas pemberontakan tersebut. Namun, pasukan Jepang berhasil dihadang dan dikalahkan oleh Pang Suma dan pasukannya di Desa Kunyil.

Sayangnya, perjuangan Pang Suma harus berakhir dengan tragis. Dalam sebuah pertempuran sengit melawan bala bantuan Jepang yang datang kembali ke Meliau pada 17 Juli 1945, Pang Suma gugur setelah terkena tembakan. Meskipun demikian, semangat perlawanannya dan keberaniannya dalam melawan penjajah Jepang tetap dikenang sebagai bagian penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Barat.

Post navigation